
Cape juga tengah malam gini belum tidur, tadi habis pulang dari acara. Besok juga ada acara lagi dari K3 Kerukunan Keluarga Kawanua jadi semua kawanua di Jakarta bakal kumpul disana atau mungkin Jabotabek, wah pasti rame banget acaranya nanti di Senayan City. Sejak saya lahir sampai sekarang jika orang Manado ditanya apa tempat paling bagus buat di datangi rata-rata orang tua menjawab Watu Pinawetengan, tempat bersejarah dan klo datang disana harus hati-hati kong musti sopan. Klo nyanda nanti terjadi apa-apa pa ngana klo nyanda sopan. Wow jadi tambah bingung memang nya ada apa di sana? terus rata-rata menjawab ada Opo di sana… tentang Opo silahkan baca Opo Minahasa.
Sebenarnya Watu Pinawetengan sempat terkubur dan hilang selama berabad-abad. Penggalian situs bersejarah itu dilakukan pada bulan Juni tahun 1888 hasil penelusuran JAT Schwarz dan JGF Riedel dari sastra lisan dan tuturan yang tersisa di masyarakat Minahasa. Mereka adalah putra Pendeta JG Schwarz dan Pendeta JF Riedel yang menjadi misionaris di Minahasa. Nederlandsche Zendeling Genootschap mengirimkan dua penginjil, Johann Gottlieb Schwarz dan Johann Frederik Riedel yang masing-ditempatkan di Langowan dan Tondano. Saya tidak akan membahas tentang penginjlan kali ini, jika anda berminat ingin tetap tau silahkan download ebook Sejarah Masuknya Injil di Minahasa karangan Pdt Dr AF Parengkuan MTh silahkan download gratis dengan meng-klik link di bawah ini:
http://www.ziddu.com/download/3349768/sejarahinjilmasukminahasa.pdf.html
Ok back to topic, gimana mulai menemukan titik cerah mengenai Watu Pinawetengan? jika Watu itu di anggap sakral atau suci namun kenapa batu itu sempat terkubur selama berabad-abad? dan di biarkan begitu saja cenderung dilupakan tanpa perawatan, malah orang dari bangsa asing yang melakukan penggalian? ok! pertanyaan ini memang tidak dijawab bahkan cenderung dibiarkan menjadi misteri, untuk yang tau bisa memberi tau lewat komen. Saya juga coba menjawab, saya menjawab ini bukan sebagai seorang ahli atau melalui penyelidikan mendalam, tapi berdasarkan logika berpikir. Untuk sedikit memahami anda sebaiknya membaca dulu Asal – Usul Suku Minahasa disitu diceritakan nenek moyang Minahasa dari Mongolia, tentu ada istiadat suku Minahasa pada awal mulanya seperti bangsa Mongol tidak seperti sekarang yang cenderung seperti adat orang Eropa.
Uniknya disini bangsa Mongol selalu menyembunyikan tempat yang mereka anggap suci atau sakral, sebagai contoh Kuburan Genghis Khan yang sengaja disembunyikan semua orang yang menguburkan Genghis Khan dan keluarga yang tau di sumpah untuk tidak memberitahukan tentang kuburan itu, konon katanya jejaknya diketahui oleh se-ekor unta. Semua kaisar dinasti Yuan mewasiatkan hal yang sama, sehingga kuburan mereka sampai sekarang tidak tentu rimbanya.
Selama abad 20, berbagai negara, di antaranya dari Hungaria, Polandia, Amerika Serikat, Jepang, Italia, Jerman, Perancis, Kanada, Rusia, Turki dan Korea Selatan, telah menginvestasikan dana besar untuk menemukan kuburan tersebut. Namun semuanya mengalami kegagalan.
Salah satu sebab utama kegagalan itu adalah keinginan rakyat Mongolia untuk menjaga amanah dari Genghis Khan agar kuburannya tetap tidak diketahui. Bagi mereka, apabila kuburan tersebut diketemukan, maka itu akan mengganggu roh nenek moyang mereka itu. Lihat juga Mausoleum of Qinshihuang
Back topic again. Sampai disitu gimana? yup benar perkiraan anda seperti saya. Tempat tersebut memang sengaja dikubur atau disembunyikan namun karena JAT Schwarz dan JGF Riedel maka dilakukan penggalian, dan memang arti pada guratan atau tulisan pada Watu itu tidak ada yang tau bahkan para ahli, apa sengaja tidak diberi tau artinya oleh orang tua dulu yang mengerti artinya? silahkan jawab sendiri deh.
Lalu bagaimana dengan cerita mitos, mitos adalah cerita suci, sakral dan tidak sembarang di ceritakan biasanya pada acara tertentu saja, bahkan orang yang tidak mengerti bahasa cenderung tidak mengerti contoh cerita Toar Lumimu’ut yang di ceritakan hanya upacara Rumages, apa itu? kita le kurang tau, mar kita coba mau kasih tau sadiki, karena memang kita tau cuma sadiki
.
Tanah Minahasa adalah tanah perjanjian dan pemberian dari Opo Empung Wangko sebutan lain Tuhan yang merajai semua Roh dan Opo. Lewat burung Manguni Opo Empung Wangko membimbing, mereka berjalan mendaki bukit menuruni lembah, mengikuti sang manguni yang menuntun keluarga besar itu ke tanah pengharapan. Lahan penghidupan di Tuur in Tana harus ditinggalkan karena bencana silih berganti. Penderitaan selama perjalanan berakhir di atas perbukitan Tonderukan di kaki Gunung Semeseput (Soputan). Lembah nan indah dengan hamparan luas menghijau tergelar di hadapan mereka diantar manguni makasiyow, sang burung hantu keramat.
Para kumeter, pemimpin mapalus, memutuskan membangun permukiman baru di tempat yang dinamai Ranolesi. Permukiman pertama itu sekarang dipekirakan berada di antara Desa Tumaratas dan Toure. Para waraney (prajurit perang) pergi berburu untuk perayaan kurban. Para walian (pemimpin spiritual) menyiapkan upacara syukur dan mencari tempat untuk mendirikan tumotowa, watu mesbah ritual yang menandai pembukaan permukiman baru.
Watu tumotowa, batu penjuru yang selalu dibangun mengawali permukiman baru. Setiap hendak membuka permukiman baru, leluhur Minahasa melepaskan seekor ayam jantan di tempat yang telah dipilih. watu didirikan di tempat pertama kali ayam mencakar tanah.
Watu itu menjadi saksi nuwu i tua (petuah para sesepuh) atau amanat watu pinawetengan yang isinya, ”Bahwa tanah ini adalah milik kita bersama. Sesuai petunjuk sang manguni, bagi-bagikanlah tempat ini. Rambahilah tapal-tapal baru lahan penghidupan, wahai pekerja. Kuasai dan pertahankanlah wilayah, wahai satria. Agar keturunan kita hidup dan memberi kehidupan.”
Di watu pinawetengan itu, para pemimpin keluarga merundingkan pembagian wilayah. Tanah perjanjian itu awalnya dibagi menjadi tiga untuk subetnis Tombulu, Tomtowa, dan Tongkimbut. Tomtowa kemudian berubah menjadi Tonsea dan Tongkimbut menjadi Tontemboan. Seiring waktu, terbentuk sembilan subetnis Minahasa hingga sekarang, yaitu Tontembuan, Tonsea, Tombulu, Tonsamang, Ponosakan, Bantik, Pasan, Ratahan, dan Tolour.
Para walian menemukan batu alam besar yang membujur timur barat dan di atasnya bertengger burung manguni. Batu-batu di sekitarnya ditunggui ular hitam. Batu besar itu dipilih sebagai tumotowa wangko atau mesbah agung untuk Opo Empung Wangko yang telah memberikan tanah tersebut. Upacara syukur digelar di batu besar yang sekarang dikenal dengan Watu Pinawetengan.
Berikut foto-foto Watu Pinawetengan dan lokasi: (silahkan klik untuk perbesar gambar)
Terlepas dari cerita diatas, memang belum mendapatkan jawaban sepenuhnya karena memang cerita Watu Pinawetengan sengaja menjadi misteri namun cukup aneh jika tempat yang begitu dianggap suci dan sakral sampai sekarang ini tidak diketahui artinya seperti tulisan dan apa pada awal mulanya. Sekali lagi saya tegaskan tidak perlu bingung memang semua tempat suci dan sakral di dunia memang sengaja disembunyikan karena memang tempat tersebut tetap harus menjadi mitos yang hanya diketahui keturunan dan bukan untuk orang umum. Namun bangsa asing diluar sukunya lah yang menggalinya.
Pada akhir jaman nanti para keturunan Toar-Lumimuut akan kembali ke tanah perjanjian seperti kata Opo Karema, “Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun, akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya”.
Sudah pagi nih semaleman nulis, tertulis begitu aja.
Penulis: Ryker Marvyn
Baca juga posting:
- Burung Manguni Burung Manguni, Burung Tootosik ada juga sebutan di lainnya tergantung daerah Minahasa mana. Namun tetap menjadi umum disebut Burung Manguni (mauni : mengamati) yang memang di tugaskan oleh Opo Empung Wangko untuk selalu memberi petunjuk kepada bangsa...





















































































wah kamu yang foto sendiri yah……
ceritanya menarik…bagus buat film…
Mantapz bro…
Aplgi Fotox…
Hebat…. MUC salut… Sukses selalu bro
Salut-salut
Gitu donk …
ternyata masih ada Generasi kita sekarang yang concern dengan budaya
jgn hanya budaya barat saja yang dicontoh
tapi budaya kita juga kaya dan perlu digali biar anak cucu kita nanti juga tau ada Watu Pinabetengan dengan sejarahnya yang kolosal
Hello there, thanks untuk dikunjungi. hope ur having a nice day.
salut buat ryker yang senang menulis ttg sejarah minahasa…..tapi jgn lupa dgn studimu yaah…