Apr 13, 2012

sampukongKelenteng Sam Poo Kong semakin megah. Tampilannya pun tentu akan semakin mentereng jika saja pintu gerbang bagian tengah di atas kompleks seluas 3,2 hektare lebih itu, pada tahun 2012 ini, selesai dikerjakan.

Patung Sam Poo Kong makin terlihat gagah di sudut lapangan terbuka. Patung dengan berat empat ton terbuat dari bahan dasar perunggu, dengan tinggi 10 meter, dari China itu makin terlihat mewah menghiasi seluruh bangunan di kompleks kelenteng tersebut. Patung ini merupakan sumbangan seorang warga guna melengkapi kelenteng Sam Poo Kong.

Sam Poo Kong adalah tokoh legendaris dari China yang memiliki nama lain Laksamana Cheng Hoo yang beragama Islam. Cheng Hoo sering  memimpin kunjungan muhibah ke berbagai negara dan mengembangkan hubungan perdagangan, budaya, penyebaran agama dan berbagai bidang lainnya.
Laksamana yang berasal dari Provinsi Yunan, China Selatan pada kejayaan Dinasti Ming itu pernah melakukan kunjungan keliling dunia sebanyak tujuh kali.

Ekspedisinya ke wilayah timur, barat dan selatan. Termasuk ke Pulau Jawa pertama kali pada tahun 1405 dan kedua pada tahun 1416. Pada kunjungan keduanya di Pulau Jawa, kapalnya mengalami musibah. Kandas di Pantai Simongan, sekitar pantai Semarang. Di pantai itulah Cheng Hoo atau Sam Poo Kong beristirahat.

Lantas, pada tahun 1724, warga etnis China Semarang membangun kelenteng Sam Poo Kong sebagai ungkapan menghormati San Poo Kong yang pernah datang ke wilayah pantai tersebut. Terlebih Sam Poo Kong merupakan seorang tokoh, dengan segala keberanian dan kepercayaan dari raja, mampu menggerakkan seluruh potensi anak buahnya untuk berinteraksi mengembangkan perdagangan, meningkatkan hubungan budaya termasuk agama.

Lantas, bangunan apa saja yang ada di kawasan kompleks Kelenteng Sam Poo Kong itu?
Pertama bangunan berupa Pemujaan Dewa Bumi ¿Hook Tik Ching Shin atau Toa Pekong. Kedua, Makam Juru Mudi Wang Ching Hong atau Dampu Awang. Ketiga Goa Suci Sam Poo Kong yang dahulu digunakan sebagai tempat beristirahat Laksamana Cheng Ho. Tempat ini merupakan bagian dari bagunan utama.

Terakhir, keempat, adalah Kiai Jangkar yang merupakan benda peninggalan kapal Laksamana Cheng Ho. Bangunan lain adalah tempat Nabi Kong Hu Tju, akhli filsafat. Juga ada bangunan arwah Hapeng, atau tempat kediaman arwah. Kemudian makam juru masak atau mbah Kiai dan Nyai Tumpeng. Benda peninggalan yang hingga kini masih terpelihara di antaranya Jangkar kapal, Goa Suci dan Pohon Rantai.

Semua golongan
Meski bangunan kelenteng tersebut dikerjakan etnis China, hal itu bukan berarti kalangan dari etnis dibatasi untuk mengunjungi wilayah yang pernah disinggahi Laksamana Cheng Hoo. Banyak tamu dari berbagai mancanegara, dari berbagai golongan agama berziarah ke kelenteng Sam Poo Kong.
Sam Poo Kong atau dapat juga diartikan sebagai embah, leluhur, atau orang yang dituakan. Lantaran begitu besarnya Cheng Hoo dihormati, maka tak heran ia pun diberi gelar Sam Poo thai Chin (ia merupakan seorang laksamana).

Gelar lainnya adalah Sam Poo Thai Kham (ia dikebiri, tidak nikah, kasim). Juga memperoleh gelar Sam Poo Taren (atau ia sebagai orang besar: jabatan maupun kepiawaiannya).

Terkait dengan kebesarannya itulah maka setiap upacara Sen Jit atau ulang tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Pulau Jawa dilakukan upacara khusus. Upacara itu berkisar pada bulan Juli sampai Agustus menurut kalender masehi. Jika menggunakan kalender Tingkok tetap pada Lakque Ji Kaw atau tanggal 29 bulan enam kalender China.

Di luar itu, setiap malam Jumat kliwon atau Selasa kliwon, kelenteng tersebut banyak dikunjugi umat untuk berziarah. "Yang datang, tak terbatas pada umat Kong Hu Chu saja. Umat Islam pun banyak berziarah," kata Ratman, pemandu wisata Kelenteng Sam Poo Kong yang sudah lebih dari 30 tahun.
Ratman menuturkan, banyaknya umat dari berbagai agama ke kelenteng itu karena memang nama besar Laksamana Cheng Hoo yang melegenda. Para sesepuh etnis China di Semarang, seperti mbah Hook, mbah Tong dan mbah Mari, pernah bercerita bahwa kedatangan Cheng Hoo ke Semarang telah banyak membawah pengaruh dan perubahan bagi warga setempat.

Kehidupan sosial, termasuk bidang kultural dan keagamaan, terasa lebih harmonis. Karena itu, tatkala Kelenteng Sam Poo Kong terkena banjir rob, pada 1990-an, Yayasan Sam Poo Kong yang dipimpin Ir. Priambudi memperbaiki kompleks tersebut. Seluruh bangunan diperbaiki tanpa menghilangkan ciri khasnya.

Dalam berbagai literatur memang disebutkan Klenteng Sam Poo Kong terkenal hingga ke mancanegara. Pemerintah China pun menetapkan sebagai tujuan wisata bagi pelancong asal negeri tirai bambu itu.

Yang menarik, banyak warga muslim China dari Provinsi Yunan sangat mengenal baik dan menyakini bahwa Laksamana Cheng Hoo sebagai panglima perang keturunan Persia memiliki latar belakang Muslim.

Hal ini makin meneguhkan keyakinan bagi warga etnis China di Jawa jika menyaksikan Masjid Cheng Hoo Surabaya. Masjid bernuansa Muslim China berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Balaikota Surabaya.

Masjid ini didirikan atas prakarsa para sespuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya.
Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pembangunannya baru dilaksanakan 10 Maret 2002 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2002.

Masjid Cheng Hoo, atau juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, ialah bangunan masjid yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma). Gedung ini terletak di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jawa Timur Jalan Gading No.2 (Belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa), Surabaya.

Masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.

Selain Surabaya, di Palembang juga telah ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Hoo Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Menyaksikan bangunan Kelenteng Sam Poo Kong, Masjid Cheng Hoo di Surabaya dan Palembang, sesungguhnya merupakan inspirasi bagi umat akan pentingnya kerukunan di bumi pertiwi ini.

Ternyata anak bangsa ini telah menaruh perhatian besar bahwa Cheng Hoo atau Sam Poo Kong telah membawa perubahan besar bagi hubungan antarnegara melalui budaya, agama, sosial dan politik.

Apr 3, 2012

Waruga Minahasa

0 comments
DSC04065
Cerita berikut ini yang beredar di masyarakat lewat cerita mitologi dari mulut kemulut

Pembuatan waruga dimulai tahun 1600 versi sejarah, Jauh sebelum tahun pembuatan waruga orang tua/leluhur dpt membuat waruga dari DAMATO atau Batu Gunung tanpa menggunakan yg namanya Pahat atau alat modern lain. Sedang batu dapat dorang ukir cuma memakai tangan. 9 Dotu Pinaesaan Samuanya ada Waruga kecuali Sang Dewa Air Putri Wailan Karema waruga Karema di duga di Kota menara tapi belum di temukan ada waruganya tapi tdk dipublikasikan.

Maka Sejarah Asli Minahasa akan TERBUKA termasuk WARUGA Dotu Puser Ing Tanah Banua Minahasa REMUS WURI.

Orang Minahasa mengenal dua kali pemakaman, yang pertama jenazah dimakamkan dalam Kotak Petih Kayu disebut “ Walongsong “ diletakan di hutan kemudian tulang belulangnya dicuci di sungai dan dimasukkan dalam Kotak Kayu kecil lalu disimpan di (loteng) rumah.

Cara ini masih di Ikuti oleh suku-suku yg asalnya dari Minahasa seperti suku Dayak, Papua, Ambon, dll

WARUGA DOTU TOAR & LUMIMUUT 10 Tahun lalu terbenam dlm tanah dgn kedalaman 3 meter tdk ada satupun TONAAS di sulut yg tau keberadaan Waruga Dotu Toar cuma 2 orang TITISAN atau yang di Pilih Langsung Oleh Orang Tua/Dotu.

''WALONGSONG'' Masih kalah Tua dgn yang namanya ''MANUSIA BOTOL'' tinggi dan panjang cuma 20 cm dan tubuhnya pun lomboh seperti kapas yang mendiami ''TANAH MALESUNG'' dan merekapun masih kalah tua dgn DEWA TANA'KARENGAN.

Penguasa Tanah MALESUNG hidup & Menetap Didlm Tanah. Tidak berbapa & tidak beribu sama seperti Sang DEWA AIR ''Putri Wailan Karema Dan Imam Besar ''MELKISEDEK'' Yang tidak berbapa dan beriibu.
Benjamin Sigar

Silsilah Keluarga Besar Sigar di Langowan Menurut Mantan Hukum Tua Bastiaan Bartholomeus Sigar

Maka deri teteh Rambian soedah djadi kapala district Langowang peranaklah ija,

Tabalujan soedah djadi kapala district dan peranaklah ija,

Korúa soedah djadi kapala district dan peranaklah ija ,
... Gerúng soedah djadi kapala district dan peranaklah ija,
Pangerapan parampoewan berlaki Pangalila peranaklah ija ,
Porongkaú parampúwan berlaki Sigar tiada pangkat dan peranaklah ija,
B.T. Sigar soedah djadi kapala district dan per- anaklah ija, Bastiaan Bartholomeus Sigar soedah djadi Hoekoem toewah negerij Amongena district Langowang; dan L.R. Sigar majoor jang mintah berhenti . –
Deri sebelah iboe istrij deri bapakoe B T. Sigar bernama Mariana Ratúmbúisan ada bangsa deri teteh Karewúr kapala district Tondano Toulian Toulimambot peranaklah ija,
dan seterusnya.....